Perlukah Asuransi Kesehatan Jika Tidak Sakit?

Perlukah Asuransi Kesehatan Jika Tidak Sakit?

Perlukah Asuransi Kesehatan Jika Tidak Sakit?

Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tingkat penetrasi Asuransi nasional di Indonesia hingga Juli 2021 lalu mencapai 3,11%. Angka ini meningkat dari tingkat penetrasi Asuransi di Indonesia pada akhir tahun 2020 yang mencapai 2,92%.  Meski angka ini mengalami pertumbuhan, namun jika dibandingkan dengan seluruh masyarakat Indonesia, maka baru sedikit masyarakat yang memiliki Asuransi, termasuk Asuransi kesehatan.

Apakah hal ini menunjukkan adanya keraguan bagi banyak orang untuk memiliki Asuransi kesehatan, lantaran merasa takut merugi jika uang premi yang dibayarkan sia-sia karena mereka tak pernah sakit? Jika jawabannya adalah “ya,” apakah anggapan ini bisa dibenarkan?

Asuransi kesehatan merupakan Asuransi yang sifatnya paling dasar atau bisa dikatakan sebagai Asuransi yang menjadi prioritas awal untuk dimiliki. Karena Asuransi ini akan menanggung biaya berobat rawat jalan dan rawat inap.

Namun bagi segelintir masyarakat, premi Asuransi bukanlah nominal yang kecil. Membayar premi Asuransi secara rutin tentu bisa mengganggu kondisi keuangan bila pengeluaran sudah cukup besar.

Hal itupun diperkuat kembali dengan ketiadaan besaran ideal terkait premi Asuransi. Setiap orang memiliki risiko finansial yang berbeda-beda, makin lengkap manfaat Asuransi maka makin tinggi premi yang harus dibayarkan. Itulah yang akhirnya menumbuhkan mindset seputar sia-sianya premi Asuransi yang dibayar karena tidak pernah sakit.

Ini Alasan Mengapa Premi Asuransi Bukan Pengeluaran yang Sia-Sia

Jadi, apakah sebaiknya tidak memiliki Asuransi? Sebelum mengambil keputusan, ada baiknya untuk mengetahui hal-hal seputar Asuransi berikut ini.

1. Asuransi Melindungi Harta Kita

Mari kita analogikan, kita adalah seorang pengusaha pemilik ruko yang terletak di pinggir jalan. Ruko kita disewa oleh beberapa tenant yang akhirnya menyumbang signifikan ke penghasilan pasif kita.

Demi menjamin keamanan tenant-tenant di ruko tersebut, kita pun menyewa jasa keamanan untuk berjaga selama 24 jam.

Pertanyaan yang muncul adalah, ketika tenant merasa aman karena tidak pernah ada penyusup, maling, rampok, dan lain sebagainya, apakah kita sia-sia karena membayar jasa keamanan? Tentu saja tidak.

Tanpa adanya jasa keamanan, mungkin kita sendiri lah yang harus bekerja menjaga keamanan di ruko tersebut. Kita pun akan rugi waktu dan tenaga demi menjaga keamanan tenant-tenant kita.

Asuransi pun bekerja dengan prinsip yang sama seperti jasa keamanan dalam kasus di atas.

Risiko finansial atas segala musibah yang kita alami baik berupa sakit, kecelakaan, kerusakan atau kehilangan aset, meninggal dunia, dan kerugian lainnya akan dipindahkan ke perusahaan Asuransi. Untuk itu, kita harus membayar premi rutin ke perusahaan Asuransi.

Memiliki Asuransi sama halnya dengan menyisihkan uang untuk manajemen risiko. Ketimbang harus mengeluarkan dana yang sangat besar atau kehilangan harta saat musibah datang, lebih baik membayar biaya yang tidak terlalu tinggi untuk berjaga-jaga.

Apalagi, survei dari Mercers Marsh Benefits menunjukkan bahwa kenaikan biaya medis di Indonesia tahun 2019 mencapai 10%. Mengapa hal ini bisa terjadi?  Kenaikan biaya medis ini bahkan semakin tinggi saat pandemi COVID-19 melanda. Berdasarkan data Global Medical Trends Survey 2021 yang dikeluarkan oleh Willis Towers Watson, Oktober 2020 lalu, kenaikan biaya medis di Indonesia tahun 2021 diperkirakan mencapai 12%.

Marilah kita telaah apa yang terjadi di tahun 2020 di saat COVID-19 menjadi pandemi yang merenggut banyak orang. Biaya medis tentu akan terus naik seiring dengan berjalannya waktu, mengingat adanya perkembangan teknologi, munculnya penyakit-penyakit baru, dan lain sebagainya.

Baca Juga :  Memahami Prinsip-prinsip Asuransi

Pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah, apakah penghasilan atau imbal hasil investasi kita juga mengalami pertumbuhan 10% atau lebih setiap tahunnya?

Jika tidak, maka sangat disarankan bagi kita untuk mentransfer risiko finansial ini ke perusahaan Asuransi, agar beban keuangan kita ketika masalah ini muncul tidak akan bengkak.

2. Tak Ada yang Sia-Sia Dalam Asuransi

Namun pada dasarnya, “tidak ada yang sia-sia” dalam Asuransi. Yang ada hanyalah kepemilikan Asuransi yang kurang tepat guna bagi para pemegang polis atau penerima manfaatnya.

Seseorang bisa saja menjadi overinsured, ketika mereka membayar premi terlampau tinggi untuk sebuah manfaat yang terlalu besar dan kurang dibutuhkan. Atau, mereka juga bisa underinsured (kurang terlindungi), ketika manfaat Asuransi yang dimiliki tidak sanggup menanggung risiko finansial yang mereka alami.

Terlepas dari overinsured atau underinsured, mereka sama-sama akan mendapatkan manfaat ketika mengalami musibah yang muncul tak terduga.

Meski demikian, ketahuilah bahwa Asuransi sejatinya adalah biaya atau pengeluaran yang harus dibayar rutin. Maka alangkah baiknya bagi kita untuk mendapatkan proteksi yang sesuai dengan yang dibutuhkan, dengan membayar iuran yang terjangkau.

3. Cerdaskah Membeli Asuransi dengan Fitur Pengembalian Premi?

Tidak sedikit produk Asuransi yang menyediakan gimmick seperti pengembalian uang premi jika tidak ada klaim (no claim bonus) atau nilai tunai investasi. Hal ini, tentu saja akan menjadi pemanis untuk menggaet nasabah yang belum familiar atau skeptis terkait kepemilikan Asuransi kesehatan.

Tapi ketahuilah bahwasannya Asuransi dengan fitur pengembalian premi atau investasi tentu memiliki iuran premi yang lebih tinggi ketimbang Asuransi berbentuk perlindungan murni.

Bagi mereka yang membeli Asuransi dengan paket investasi, iuran premi yang dibayarkan tentu akan dibagi menjadi dua, yaitu untuk proteksi dan investasi. Dan kita pun harus mengetahui bahwasannya segala bentuk risiko dari investasi di produk Asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI) atau unit link, akan ditanggung sepenuhnya oleh nasabah. Perusahaan Asuransi tidak bisa memberikan jaminan terkait pengembalian hasil investasi tersebut.

Namun, nilai tunai dalam PAYDI bisa bermanfaat untuk membayar Premi Asuransi di masa depan kelak ketika kita sudah pensiun dan tidak punya penghasilan, sehingga polis Asuransi kita tetap aktif dan bisa memberikan perlindungan lebih lama. Selain itu, nilai tunai dalam PAYDI juga bisa digunakan untuk mencapai tujuan keuangan lainnya.

Jika kita sudah memahami tentang manfaat dan fakta seputar Asuransi dengan manfaat no claim bonus dan PAYDI, dan manfaat tersebut sesuai dengan kebutuhan kita, maka membeli kedua jenis Asuransi tersebut adalah pilihan yang tepat.

4. Kita Bisa Menyesuaikan Premi dengan Kemampuan Finansial

Alasan selanjutnya mengapa Premi Asuransi bukan merupakan pengeluaran yang sia-sia adalah, kita bisa menyesuaikan besaran Premi dengan kemampuan finansial. Dengan begitu, tidak ada kata Premi yang terlalu tinggi atau memberatkan. Kita bisa memilih Asuransi murni atau tradisional yang menawarkan Premi terjangkau. Atau, paling tidak kita memiliki BPJS Kesehatan. Sehingga, ketika kita harus berobat, kita sudah memiliki jaminan kesehatan yang akan menanggung biayanya.

Seiring dengan perubahan siklus kehidupan, kebutuhan yang bertambah, serta ekonomi yang semakin mapan, kita bisa kembali menyesuaikan Premi Asuransi dengan kebutuhan dan kemampuan finansial.

Itulah hal-hal yang harus kita ketahui seputar premi Asuransi. Membayar premi Asuransi memang memerlukan komitmen. Namun, kita akan merasakan manfaat yang jauh lebih besar dengan memiliki Asuransi, yakni beban biaya yang lebih ringan ketika jatuh sakit. Selamat menimbang.